Tuesday, June 25, 2013

Do it NOW, Before its too LATE

Mungkin jika hari itu aku tidak pergi dari rumah, kejadiannya tidak akan seperti ini….
Saat itu semua orang berdatangan ke persiapan pemakamannya, dikediaman salah satu perumahan disudut bilangan Kota Jakarta, sudah terpampang bendera kuning dan berbagai macam karangan bunga. Banyak juga lafal-lafal do’a yang terlintas dari beberapa orang yang berdatangan dengan silih berganti, malah masih ada dari mereka yang berceloteh membicarakan kebaikan almarhum maupun keburukannya selama masih hidup.

Dan aku yang masih berdiri disudut depan rumahnya, hanya bisa mendengarkan sedikit percakapan mereka..”kasihan yah pak subagja, anak-anaknya tidak ada yang hadir..padahal beliau dermawan sekali. Suka menyantuni anak yatim, membagikan  sembako ke warga sekitar tapi sangat miris yang pas meninggal dunia tidak diurusin sama anak-anaknya”

Tak ada yang menyadari kehadiranku kala itu, batinku seketika bertengkar hebat ‘Andai saja papah punya waktu untuk keluarga, sering berkumpul bersama keluarga, bukan sibuk mencari uang hingga kerja pulang larut malam. Dimana papah saat anak-anaknya tumbuh dewasa? Dimana papah saat anak-anaknya di wisuda? Dan dimana papah waktu mamah meninggal dunia? Papah hanya sibuk kerja dan kerja’.

Air mata ini mulai mengalir, sesak dada ini menyeruak ke rongga paru-paruku, kenangan dan kenangan itu trus terlintas ‘Aku mulai merapihkan baju-bajuku setelah seminggu meninggalnya mamah. Saat itu baru sebulan aku diwisuda, perlahan aku membuka pintu kamar, berjalan perlahan tanpa menimbulkan suara ke arah pintu keluar, “Selangkah lagi kamu melangkah, jangan pernah kembali lagi kerumah ini” tiba-tiba suara papah membahana dari ruang keluarga. Akupun mendadak berhenti “apa bedanya aku tinggal dirumah dan diluar rumah pah???tetap saja tidak ada kasih sayang lagi, mamah sudah meninggal…papah hanya sibuk kerja dan kerja hingga lupa kalau papah masih punya aku dan kakak”, “jadi kamu masih ingin pergi dari rumah ini??” tanpa berfikir seribu kali, aku langsung melangkah menuju pintu keluar dengan menghiraukan serangkaian amarah-amarah papah saat itu. Sejak saat itu tidak ada komunikasi lagi antara aku dan papah, hingga aku dengar berita dari teman kakak, bahwa kakak juga pergi dari rumah seminggu setelah kepergianku.

Menyesal, itu yang aku rasakan..tak tahan lagi aku menahan rindu ini, meskipun berbagai macam kejadian yang terhadi. Akupun melangkah masuk ke rumah yang 5 tahun lalu aku tinggalkan. Tergeletak..ditutupnya wajah tegas itu dengan kain coklat panjang yang terbentang dari ujung kaki hingga kepala, masih tercium aroma khas papah, minyak angin yang selalu beliau pakai setiap malam. Perlahan aku mendekat..’bukan ini yangt aku mau pah, aku ingin bertemu papah yang melipat tangannya didada sambil berdiri..bukan tidur terbujur kaku tak bernyawa’

Akupun membuka tudung kain yang menutupi wajah beliau, ‘senyum itu, andai aku bisa melihatnya setiap hari….mengapa baru hari ini aku melihatnya’. Matakupun menangkap dua buah surat yang tergeletak tak jauh dari kepala papah„,tertulis dibagian muka surat itu ‘Teruntuk Anak Keduaku’  akupun segera mengambilnya, kubuka perlahan surat itu dan kubentangkan dengan rasa sesal yang kian menyalak.


Teruntuk Anakku…

Bertahun tahun papah hidup tanpa kalian, bertahun tahun pula papah masih menyimpan ego papah..papah sangat lemah anakku, papah tak bisa hidup seperti ini, tanpa kamu, tanpa kaka dan tanpa mamah..siapalah papah tanpa kalian??
Inilah papah nak, bertahan dengan ego papah sendiri..padahal papah sendiri tak sanggupharus hidup seperti ini. Apakah kamu ingat nak, 5 tahun yang lalu ketika kamu hendak meninggalkan rumah ini??Hati papah berteriak ‘Jangan pergi nak, papah sayang kamu’..tapi mulut papah sulit untuk mengucapkan itu..
Maafkan papah yang tak pernah punya waktu untuk kalian, papah kerja untuk kalian..papah mengumpulkan uang untuk kalian, kebahagiaan kalian..mungkin kamu tidak tahu nak, setiap malam ketika papah pulang kerja, papah selalu masuk ke kamar kalian diam-diam dan mencium kening kalian disaat kalian terlelap..25 tyahun nak papah melakukan itu.
Tapi papah memang salah..buat apa paah mengumpulkan uang uang ini tapi papah tak punya waktu untuk kalian„hingga saat ini, saat kamu membaca surat ini..saat kamu melihat papah terbaring, mungkin disaat itu waktu terakhir papah ada untuk kalian meski tanpa nyawa..Selamat tinggal nak, papah selalu mencintai kalian.

Salam Sayang

Papah

Ku hamburkan pelukanku ditubuh dingin papah..ku dekap erat sebagai penanda pelukan terakhirku..’Maafkan aku pah, aku yang sala..aku juga terlalu egois untuk pergi dari rumah ini tanpa memikirkan papah, aku juga sayang papah’. Mungkin inilah saat terakhirku untuk merawat papah, mungkin inilah saat terakhirku memberikan kasih sayang nyata untuk papah.

Selamat Jalan pah….

Memberikan Kebahagiaan untuk keluarga bukan hanya dengan materi, tapi kebersamaan dan kehangatan yang takkan ternilai harganya..LUANGKAN WAKTU ANDA SEKARANG UNTUK KELUARGA..jangan sibuk mencari materi duniawi

DO IT NOW, BEFORE ITS TOO LATE

FR89